Hey !!

Hey, gadis kecil !!

semoga kelak kau akan berhati mulia.

di kepalamu tidak tersimpan dendam dan benci, seperti ibumu.

Iklan

Perempuan Sepatu Merah

Perempuan Sepatu Merah

Perempuan itu mengaum
Seperti singa terluka, digeretakkannya geliginya
Lepas sudah sedih luka
Dan hilang berbukit-bukit lusuh di dadanya
Perempuan itu mengaum
Namun belum tentu ia bersuara
Tahukah kau, cara perempuan membuang lukanya
Adalah dengan menebar tinta
Ya. Dengan puisi dalam pena

Perempuan itu mengaum
Tabur benih duka berubah jadi bianglala
Semua ternganga
Ku rasa kau tahu siapa ia
Sementara berdiri perempuan ceking bersepatu merah

 
*******

Yusemi ( Part II )

GambarYusemi, gadis asal desa yang merantau ke kota demi sebuah masa depan yang lebih baik.

Tinggal bersama bibinya di kota membuat gadis desa  ini harus menurut kepada bibi dan pamanya yang sudah dianggap sebagai orang tuanya sendiri.
Apapun keputusan bibi dan pamanya harus ia penuhi dan kudu sendiko dawuh, mengingat ia adalah anak angkat yang harus berbakti kepada mereka.

Hidup di gang gang sempit di kota membuat ia harus berjibaku setiap pagi mengendarai motor bututnya ke tempat ia bekerja. Bekerja di sebuah kantor kecil di perkantoran yang terlihat kumuh dan usang ia lalui setiap hari demi sepiring nasi.  Dan menuju petang ia baru pulang.
Wajahnya yang kuyu dan badanya yang kurus mencerminkan bahwa ia adalah sosok pekerja keras.
Sesekali ia pulang ke desa untuk menjenguk sang emak yang sudah tua dan saudaranya di desa asalnya. Dengan memberi beberapa lembar uang dari hasil ia bekerja.

Kerasnya hidup membuat Yusemi berangkuh terhadap lingkunganya, sebelum berangkat bekerja ia harus memasak terlebih dahulu untuk menekan biaya hidup yang memang tinggi di perkotaan.
Untuk membeli bajupun di Mall atau plaza ia harus berpikir ulang, demi kelangsungan hidupnya agar terpenuhi.
Namun, kerasnya hidup tak membuat Ia jauh dari Tuhanya. Ia tergolong gadis taqwa dan sederhana.
Di dalam setiap doanya, ia senanstiasa meminta kepada Tuhan untuk dipertemukan dengan seseorang yang kelak akan menjadi pendamping hidupnya. Tentu saja yang seiman dan bisa mengerti makna cinta.

Di Genggamanmu

Ran, ayo pulang !!!
Sampai kapan kau akan duduk di kursi dermaga ini ?
Sampai senja  menghilang, ucap Rani lembut.
Sebentar lagi malam datang dan angin  mulai berhembus dingin.
Rani tetap membisu sembari menatap kapal di tengah samudera
Rio bak putus asa karena ajakanya tak dihiraukan.
Ia perlahan pergi meninggalkan Rani yang masih termenung di tepi dermaga
Langkah gontai Rio masih saja tak membuat Rani tersadar bahwa dirinya semakin sendiri.
Dari kejauhan terdengar suara langkah berlari menghampiri Rio.
“Rio, Maafkan aku”. Sambil memeluk erat.
“Aku mau menikah denganmu,aku sayang kamu”
“Tak seharusnya aku berlama lama membiarkanmu sendiri, mengabaikan keseriusanmu untuk menikah denganku”
“Maafkan kebodohanku selama ini atas ego dan kerasnya watak ku”
“Rio mengecup kening Rani dengan sayang dan menggenggam erat tangan Rani”
Merekapun melangkah meninggalkan Dermaga dengan senja yang perlahan mengatup.

*******

pink

“Sebab, di genggam jemarimu, langkahku tak kuasa beranjak “
*******