Perempuan Sepatu Merah

Perempuan Sepatu Merah

Perempuan itu mengaum
Seperti singa terluka, digeretakkannya geliginya
Lepas sudah sedih luka
Dan hilang berbukit-bukit lusuh di dadanya
Perempuan itu mengaum
Namun belum tentu ia bersuara
Tahukah kau, cara perempuan membuang lukanya
Adalah dengan menebar tinta
Ya. Dengan puisi dalam pena

Perempuan itu mengaum
Tabur benih duka berubah jadi bianglala
Semua ternganga
Ku rasa kau tahu siapa ia
Sementara berdiri perempuan ceking bersepatu merah

 
*******

Yusemi ( Part II )

GambarYusemi, gadis asal desa yang merantau ke kota demi sebuah masa depan yang lebih baik.

Tinggal bersama bibinya di kota membuat gadis desa  ini harus menurut kepada bibi dan pamanya yang sudah dianggap sebagai orang tuanya sendiri.
Apapun keputusan bibi dan pamanya harus ia penuhi dan kudu sendiko dawuh, mengingat ia adalah anak angkat yang harus berbakti kepada mereka.

Hidup di gang gang sempit di kota membuat ia harus berjibaku setiap pagi mengendarai motor bututnya ke tempat ia bekerja. Bekerja di sebuah kantor kecil di perkantoran yang terlihat kumuh dan usang ia lalui setiap hari demi sepiring nasi.  Dan menuju petang ia baru pulang.
Wajahnya yang kuyu dan badanya yang kurus mencerminkan bahwa ia adalah sosok pekerja keras.
Sesekali ia pulang ke desa untuk menjenguk sang emak yang sudah tua dan saudaranya di desa asalnya. Dengan memberi beberapa lembar uang dari hasil ia bekerja.

Kerasnya hidup membuat Yusemi berangkuh terhadap lingkunganya, sebelum berangkat bekerja ia harus memasak terlebih dahulu untuk menekan biaya hidup yang memang tinggi di perkotaan.
Untuk membeli bajupun di Mall atau plaza ia harus berpikir ulang, demi kelangsungan hidupnya agar terpenuhi.
Namun, kerasnya hidup tak membuat Ia jauh dari Tuhanya. Ia tergolong gadis taqwa dan sederhana.
Di dalam setiap doanya, ia senanstiasa meminta kepada Tuhan untuk dipertemukan dengan seseorang yang kelak akan menjadi pendamping hidupnya. Tentu saja yang seiman dan bisa mengerti makna cinta.

Di Genggamanmu

Ran, ayo pulang !!!
Sampai kapan kau akan duduk di kursi dermaga ini ?
Sampai senja  menghilang, ucap Rani lembut.
Sebentar lagi malam datang dan angin  mulai berhembus dingin.
Rani tetap membisu sembari menatap kapal di tengah samudera
Rio bak putus asa karena ajakanya tak dihiraukan.
Ia perlahan pergi meninggalkan Rani yang masih termenung di tepi dermaga
Langkah gontai Rio masih saja tak membuat Rani tersadar bahwa dirinya semakin sendiri.
Dari kejauhan terdengar suara langkah berlari menghampiri Rio.
“Rio, Maafkan aku”. Sambil memeluk erat.
“Aku mau menikah denganmu,aku sayang kamu”
“Tak seharusnya aku berlama lama membiarkanmu sendiri, mengabaikan keseriusanmu untuk menikah denganku”
“Maafkan kebodohanku selama ini atas ego dan kerasnya watak ku”
“Rio mengecup kening Rani dengan sayang dan menggenggam erat tangan Rani”
Merekapun melangkah meninggalkan Dermaga dengan senja yang perlahan mengatup.

*******

pink

“Sebab, di genggam jemarimu, langkahku tak kuasa beranjak “
*******

Mak Wing

Jam sudah menunjuk kan pukul 3 sore

saatnya menyandarkan punggung dan menghela nafas panjang, haahh….. ( sambil tekuk tekuk badan )

mata serasa panas berjam jam di depan monitor yang ramah menemani tanganku mengetik di atas keyboard

dan rasa yang tak pernah ketinggalan yang selalu menyertai adalah “lapar” 😆

lalu yang tersirat di pikiran adalah “nanti malam makan apa ya”

jadi nikmat jika memikirkan menu apa yang akan disantap nanti malam, dan selera makanpun menemukan semangatnya 😆

hhhmmmmm,,,,,,,,,,,,,,,, yuk kita intip hidangan yang satu ini

Gambar

Aha !!! Benar Sekali, Ia adalah Tahu Telor ala Mak Wing ( bukan ala Chef siiyy ) 😀

Menu favorit sepulang kerja yang biasa dikerumuni para pekerja dari kantor setelah adzan Magrib usai

Sederhana dan enak, plus halal. ditambah taburan tauge ( orang jawa bilang cambah ) semakin terasa segar dan nikmat.

saya rasa di beberapa daerah banyak dijumpai menu makanan ini karena lazimnya memang mudah ditemukan

mungkin yang berbeda hanya bumbu kacang dan kecap yang dibuat takarannya.

Cara penyajianya pun bermacam macam, ada yang memakai piring biasa yang biasa dipakai,  ada yang menggunakan cobek, adapula yang beralaskan daun pisang yang bisa menambah rasa pada menu tersebut.

Gambar

Ahh iya, sudah saatnya saya berkemas untuk siap siap pulang. Ditunggu dengan bis jemputan karyawan dan ditemani dengan lagu favorit yang sudah akrab di telinga saya, miliknya Shania Twain “You”re Still the One”

Seraya berucap syukur Alhamdulillah hari ini terasa menyenangkan dan kerjaan berangsur selesai satu per satu.

selanjutnya menuju peraduan malam dan sebelumnya mampir ke Tahu Telor Mak Wing 😆

Yuk Marii ……